Jurnal Tim Jamnas SDIT Harapan Bunda (3)

29 07 2008

Jum’at (11/7). Alhamdulillahi ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur. Dalam cuaca yang cukup sejuk, siswa SDIT Harapan Bunda bangun untuk menunaikan sholat shubuh. Meskipun badan capek, karena perjalanan dan kerja bakti membuat pagar semalam, ditambah hawa yang suejuk tak menyurutkan langkah mereka ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah sholat shubuh dan dzikir ma’tsurat bersama, anak-anak harus bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan di alun-alun Kabupaten.
Regu putra SDIT Harapan Bunda berada di Kecamatan Sultan Hasanudin Kelurahan Giat RW 28 dan Kecamatan HR. Rasuna Said Kelurahan Optimis RW 59, untuk regu putrinya.

Sekitar jam 06.30, semua peserta bergerak menuju alun-alun Kabupaten. Kakak-kakak SMP dan SMU tampak ramai menyanyikan yel-yelnya. Nah, yang paling menarik adalah regu yang datang dari negeri jiran, Malaysia.

Mereka menuju ke alun-alun dengan seragam hijaunya. Kalau yang lain jalan dengan lenggang kangkung, mereka jalan dengan rapih jali. Layaknya bapak tentara sedang berjalan.

Ungkapan menunggu adalah pekerjaan yang sangaat membosankan, terbukti. Seperti pagi itu, kami harus menunggu teman-teman peserta kumpul, juga menunggu tamu undangan. Belum sarapan lagi. Wah. Komplit dah. Untunglah, Kak Upik yang baik hati membawakan kami donat. Yah lumayan, buat mengganjal perut yang baru diisi susu coklat, yang puanasss.

Upacara pembukaan pun dimulai. Diawali dengan pembacaan ayat suci al Quran, dilanjutkan dengan sambutan ini-itu yang tidak begitu jelas, karena sound system yang tidak normal (berdenging). Acara ini dibuka oleh Dr H Hidayat Nur Wahid MA, Ketua MPR RI, yang secara simbolis memasangkan hasduk (slayer) ke peserta. Dan ditutup dengan defile semua peserta.
Dalam upacara ini, juga dideklarasikan Pramuka SIT sebagai bentuk baru dari Pandu SIT. Berjuang bersama dengan saudara lama yang sudah ada terlebih dahulu, Pramuka.

Usai upacara pembukaan, anak-anak kembali ke tenda untuk sarapan nasi goreng. Dilanjutkan dengan menghias tenda masing-masing. Kerja bakti lagi. Rame-rame ngresiki tendo. Balik tendo mbangun gapuro. Pekerjaan yang belum selesai semalam, dilanjutkan pagi ini. Sekaligus melengkapi fasilitas yang belum ada, seperti jemuran, tempat gelas, piring, sepatu, tempat sampah, ruang tamu. Bahkan Kak Hakim menyulap rumput-rumput kering menjadi taman. Sedang pak Dani, ke tenda putri sedari tadi pagi untuk membuat gapura dengan pernak-perniknya.

Menjelang dhuhur, semua kegiatan dihentikan untuk melaksanakan sholat Jum’at yang dipusatkan di alun-alun. Sholat Jum’at di alam bebas membawa nuansa tersendiri bagi anak-anak. Karena mungkin, ini kali pertama mereka sholat Jum’at di alam bebas. Di bawah pohon yang rindang, angin yang berhembus sepoi-sepoi, suara khotib yang syahdu, menambah kekhusyu’an jama’ah sholat Jum’at. Sehingga beberapa jama’ah tampak kepalanya terangguk-angguk, karena mengantuk. (Tidak di masjid, tidak di alam, sholat Jum’at identik dengan tidur siang ).

Setelah sholat Jum’at, anak-anak bersiap mengikuti kegiatan selanjutnya. Yaitu outbound untuk yang putra, dan kunjungan ke markas Brimob untuk yang putri.

Semua peserta diminta memakai kaos Jambore yang sudah dibagikan panitia saat registrasi. Regu Phoenix (regu putra SDIT Harapan Bunda, yang putri diberi nama Lotus) segera terbang ke arena out bound yang masih satu lokasi dengan tempat kemah. Sesampai di arena out bound mereka dilatih untuk bersabar -lagi dan lagi- mengantri, seperti antrian orang beli mitan yang sudah mulai punah atau antrian manula mengharap beelte.

Out bound kali ini dibantu oleh Kakak-kakak dari Pramuka. Ada beberapa lintasan yang harus dilalui. “Wah, antrinya lama, mainnya cuma sebentar.” Celetuk beberapa siswa. “Lebih menantang yang di sekolah,” seru yang lain.

Sementara, untuk regu Lotus digiring bersama kelompok lain menaiki truk-truk tentara yang sedari tadi sudah ngetem di bumi perkemahan. Mau dibawa kemana ya? Batin anak-anak.

Setelah semua peserta putri naik ke truk, kami pun diantar keluar dari Buperta Cibubur. Oh, ternyata kelompok putri dibawa ke markas Brimob (Brigade Mobile). Setelah disambut sang tuan rumah, di sini kami disuguhi berbagai macam jenis senjata. Mulai dari senjata ringan sampai senjata berat.
Selain senjata api, kami juga diperlihatkan mobil penjinak bom, seragam anti huru-hara, mobil water canon. Yang paling asyik, kami boleh berfoto dengan memakai senjata dan peralatan yang dipamerkan. Seperti pejuang kemerdekaan itu. “Hidup Mulia atau Mati Syahid!” Pokoknya seru deh.
(Bersambung)





Jurnal Tim Jamnas SDIT-SMPIT Harbun (1)

18 07 2008

Rabu (9/7), Pak Dani Satpam (biasa disebut demikian hanya untuk membedakan, karena ada pak Dani kepala sekolah dan bu Dani) masih terlihat sibuk mempersiapkan gapura yang akan dipasang di depan tenda. Mulai dari replika tugu muda yang akan menjadi gapura, foto kegiatan sebagai penghias, logo sekolah dan logo pandu. Bambu dengan berbagai ukuran dan warna tampak sudah mulai diikat.

Beberapa siswa pun mulai mengirim

perlengkapan yang akan dibawa ke Cibubur, baik dibawa sendiri maupun diantar orang tua. Tas ransel yang besar-besar dikumpulkan di depan kantor BMT Anda persis orang yang mau pindahan.

Rencananya, malam ini barang perlengkapan -baik SD maupun SMP- akan dikirim terlebih dahulu ke Cibubur, agar siswa tidak kerepotan esok harinya dan di bis tidak terlalu sesak dengan barang bawaan. Juga untuk mengantisipasi kalo-kalo ada yang belum terbawa.

Senja mulai menjelang. Anak-anak SMP yang kebagian untuk mengangkat barang-barang bawaan ke atas truk mulai gelisah. Karena sampai adzan maghrib, truk yang ditunggu-tunggu tidak nampak batang hidungnya (emang gak punya kan?). Akhirnya, menjelang isya’ truknya datang. Segera pak Dani Satpam, pak Zulfa, pak Soli, pak Hakim, dan pak Haris dibantu anak-anak SMP yang masih setia menunggu menata barang bawaan ke atas truk.

Dan seperti perkiraan semula, karena salah sambung, tidak ada seorang siswa SD yang membawa lampu emergency. Alhasil, para pembina kelimpungan dan mencoba menghubungi siswa yang mempunyai lampu emergency agar dibawa besok (10/7).

Di tengah-tengah menaikkan barang, terlintas ide untuk membawa sepeda onthel, mengingat medan jambore yang cukup luas dan diperkirakan jarak antara tenda putra dan putri berjauhan. Maka diangkutlah sepeda salah seorang guru yang ada di sekolah. Dan ternyata, sepeda ini nantinya menjadi andalan untuk transportasi di Cibubur. Malah menjadi primadona guru pembimbing.

Bersambung…..








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.